‎Cisantana Tergenang, Tata Ruang Kuningan Kembali Disorot: Hujan Bukan Satu-Satunya Jawaban ‎ ‎

- Penulis

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Seorang pengendara sepeda motor berusaha melintas di tengah derasnya aliran air yang meluap di kawasan Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu, 16 Mei 2026.

‎KUNINGAN | Rajawali Investigasi

Luapan air yang kembali terjadi di kawasan Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, memicu kembali sorotan publik terhadap pengendalian tata ruang di kawasan lereng Gunung Ciremai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aliran air dari wilayah hulu dilaporkan meluap deras setelah hujan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut pada Sabtu sore, 16 Mei 2026. Air bahkan melintas di badan jalan dan sempat terekam warga hingga viral di media sosial.

Namun di balik peristiwa itu, muncul pertanyaan yang semakin menguat: apakah kejadian ini murni akibat hujan, atau ada faktor lain yang selama ini luput dari pengawasan?

‎Sejumlah warga menyebut, pola aliran air di kawasan tersebut kini berubah dibanding beberapa tahun lalu. Limpasan dinilai lebih cepat dan membawa material dari wilayah atas lereng, seiring meningkatnya pembangunan fasilitas wisata di kawasan hulu.

Meski demikian, secara meteorologis, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Kabupaten Kuningan berada dalam kategori hujan Atas Normal (115%–150% dari rata-rata klimatologis 30 tahun).

Kondisi ini menunjukkan adanya potensi peningkatan intensitas hujan di wilayah Jawa Barat bagian selatan, termasuk kawasan lereng Gunung Ciremai.
‎Artinya, tekanan alam dan tekanan aktivitas manusia diduga berjalan bersamaan di wilayah yang secara geografis masuk kawasan sensitif.

Baca Juga:  Gambar Kerja Tak Terlihat, Ring Balok Tak Tampak: Ada Apa di Balik Peninggian Bangunan SDN 3 Karangtawang?

Berdasarkan RTRW Kabupaten Kuningan 2011–2031, wilayah Cigugur termasuk Desa Cisantana merupakan kawasan resapan air dan kawasan lindung yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga sistem hidrologi daerah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Palutungan berkembang pesat menjadi destinasi wisata dengan tumbuhnya vila, kafe, hingga penginapan di area lereng. Kondisi ini memunculkan sorotan terhadap sejauh mana pengawasan pemerintah daerah dalam memastikan kesesuaian pemanfaatan ruang dengan RTRW yang berlaku.

‎Sejumlah pihak menilai, jika perubahan tutupan lahan tidak dikendalikan secara ketat, maka kawasan resapan akan kehilangan kemampuan alaminya dalam menahan limpasan air saat hujan deras.

‎Dalam konteks ini, luapan air di Cisantana tidak lagi sekadar fenomena cuaca, melainkan sinyal awal dari tekanan ekologis yang lebih luas di kawasan hulu.

‎Peristiwa di Cisantana kini memperlihatkan satu hal yang semakin sulit diabaikan: ketika hujan datang, yang diuji bukan hanya cuaca, tetapi juga seberapa kuat tata ruang mampu bertahan dari tekanan pembangunan di kawasan yang seharusnya menjadi penyangga alam.

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai faktor utama penyebab peristiwa tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ada yang Janggal di Balik Denda 56,6 Juta RS Permata Kuningan? Inspektorat Diminta Turun
56,6 Juta Denda RS Permata Kuningan: Ada Apa di Balik Angka Investasi Rp.2,2 Miliar?
Knalpot Brong Makin Marak di Kuningan, Warga Resah: Jalan Raya Luragung – Sidaraja – Ciawigebang – Cidahu Makin Tak Nyaman
DLH Kuningan Diminta Buka Kalkulator Sanksi Rp 56 Juta RS Permata, Uha: Jangan Alihkan Isu ke Soal PNBP
Keputusan DLH Kuningan Diguncang Kejanggalan, Sanksi kepada RS Permata Dipertanyakan
Gambar Kerja Tak Terlihat, Ring Balok Tak Tampak: Ada Apa di Balik Peninggian Bangunan SDN 3 Karangtawang?
Revitalisasi SDN 3 Karangtawang Dipertanyakan, Kepala Sekolah Arahkan Konfirmasi ke CV Aulia
Revitalisasi SDN 3 Karangtawang Rp.849 Juta: Baja Ringan Mudah Dipelintir, Ring Balok Disorot
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 10:03 WIB

Ada yang Janggal di Balik Denda 56,6 Juta RS Permata Kuningan? Inspektorat Diminta Turun

Kamis, 10 September 2026 - 04:40 WIB

56,6 Juta Denda RS Permata Kuningan: Ada Apa di Balik Angka Investasi Rp.2,2 Miliar?

Rabu, 9 September 2026 - 06:40 WIB

Knalpot Brong Makin Marak di Kuningan, Warga Resah: Jalan Raya Luragung – Sidaraja – Ciawigebang – Cidahu Makin Tak Nyaman

Rabu, 9 September 2026 - 03:10 WIB

DLH Kuningan Diminta Buka Kalkulator Sanksi Rp 56 Juta RS Permata, Uha: Jangan Alihkan Isu ke Soal PNBP

Senin, 7 September 2026 - 14:16 WIB

Keputusan DLH Kuningan Diguncang Kejanggalan, Sanksi kepada RS Permata Dipertanyakan

Berita Terbaru