Foto: Ruang kelas SDN 3 Cihirup yang ambruk di Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Sabtu (10/10/2026)
KUNINGAN | Rajawali investigasi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ambruknya bangunan SDN 3 Cihirup, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, sekitar pukul 19.45 WIB, menjadi perhatian serius. Pasalnya, sekolah tersebut juga pernah mengalami ambruknya atap pada Mei 2017. Dua kejadian dengan rentang waktu lebih dari sembilan tahun ini menimbulkan persoalan mengenai kondisi bangunan dan penanganan kerusakan yang telah dilakukan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Rajawali Investigasi, atap sekolah ambruk pada Mei 2017 setelah hujan deras. Kini, kejadian ambruk kembali dilaporkan di lingkungan sekolah yang sama.
Meski belum diketahui apakah bagian bangunan yang terdampak merupakan bagian yang sama, kemunculan kembali kejadian ambruk membuat riwayat kerusakan dan tindak lanjut penanganan sebelumnya perlu mendapat perhatian.
Yang menjadi perhatian bukan hanya bangunan yang kembali ambruk, tetapi juga bagaimana kerusakan sebelumnya ditangani dan mengapa kejadian serupa kembali terjadi. Jika perbaikan pernah dilakukan setelah kejadian Mei 2017, lingkup pekerjaan dan kondisi bangunan setelahnya perlu ditelusuri.
Sementara itu, apabila bagian yang ambruk pada 2026 berbeda, kondisi struktur bangunan lainnya juga perlu dievaluasi agar penanganan tidak hanya berfokus pada titik kerusakan.
Penelusuran tersebut berkaitan langsung dengan kewajiban memastikan sarana dan prasarana pendidikan memenuhi persyaratan kelayakan dan keselamatan. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan perlu memastikan pemeriksaan teknis terhadap bangunan yang ambruk maupun bagian sekolah yang masih digunakan.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi bangunan berdasarkan penilaian yang kompeten sekaligus memastikan keselamatan siswa dan guru.
Di sisi lain, riwayat perbaikan dan pemeliharaan bangunan perlu ditelusuri melalui dokumen yang dapat diverifikasi. Informasi mengenai pekerjaan rehabilitasi, bagian yang diperbaiki, serta hasil pemeriksaan setelah pekerjaan selesai akan membantu menjelaskan penanganan kerusakan sejak kejadian Mei 2017.
Tanpa data tersebut, hubungan antara kerusakan terdahulu dan kejadian terbaru belum dapat dinilai secara objektif.
Dua kejadian ambruk pada Mei 2017 dan Oktober 2026 bukan bukti otomatis adanya kelalaian. Namun, rangkaian tersebut menjadi alasan kuat untuk mengevaluasi riwayat kerusakan, tindak lanjut perbaikan, dan keamanan bangunan saat ini.
Penyebab kejadian terbaru harus ditentukan melalui pemeriksaan teknis, sedangkan penjelasan mengenai penanganan sebelumnya diperlukan agar persoalan ini tidak berhenti pada perbaikan bagian yang roboh, tetapi juga mencakup pencegahan risiko kejadian serupa.
(GUNTUR – Redaksi)















