Waduk Darma Menyusut Drastis, Tampungan Air Tersisa 30 Persen, BBWS Ungkap Penyebabnya

- Penulis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kondisi penurunan permukaan air Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, di tengah musim kemarau panjang. (Dok. Rajawali Investigasi)

 

KUNINGAN | Rajawali Investigasi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penurunan permukaan air Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, menjadi perhatian di tengah musim kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026. Di saat cadangan air terus menyusut, kebutuhan pengairan pertanian dan air baku di wilayah hilir tetap harus dipenuhi. Kondisi ini membuat pengelola bendungan perlu mengatur distribusi air secara cermat, sekaligus mempertimbangkan kesiapan menghadapi musim tanam berikutnya.

Kepala Unit Pengelola Bendungan Waduk Darma, Dodo Wardoyo, S.T., melalui tim operator, Ahmad Mansukun Jamaludin, S.T., menjelaskan bahwa penyusutan tampungan berkaitan dengan minimnya curah hujan selama beberapa bulan terakhir, sementara kebutuhan air di wilayah hilir masih berlangsung.

Menurut Ahmad, Waduk Darma merupakan waduk tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber pasokan air. Sementara itu, kontribusi mata air di kawasan tersebut relatif kecil sehingga tidak mampu menggantikan pasokan air ketika hujan tidak turun dalam waktu panjang.

Sejak Juni hingga Oktober 2026, kondisi tersebut membuat persediaan air terus berkurang. Pada saat yang sama, kebutuhan air di wilayah hilir, baik untuk pertanian maupun air baku, tetap menjadi bagian yang harus diperhitungkan dalam pengelolaan waduk.

Kebutuhan tersebut mencakup wilayah pelayanan di Kabupaten Kuningan hingga Cirebon, termasuk kawasan yang memerlukan pasokan untuk pengairan irigasi. Karena itu, pengelola harus mempertimbangkan keseimbangan antara air yang masih tersimpan dan kebutuhan distribusi ke wilayah hilir.

Gambaran penyusutan terlihat dari volume tampungan yang disampaikan pihak operator. Dalam kondisi normal, volume air Waduk Darma berada di kisaran 32 juta meter kubik. Namun, berdasarkan keterangan Ahmad, volume yang tersisa saat ini sekitar 9,768 juta meter kubik atau kurang lebih 30 persen dari volume normal.

Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 22,232 juta meter kubik dibandingkan volume tampungan normal. Angka tersebut menggambarkan berkurangnya cadangan air setelah beberapa bulan menghadapi minimnya hujan dan kebutuhan penyaluran air.

Selain volume tampungan, Ahmad juga menyampaikan informasi mengenai elevasi muka air Waduk Darma. Dalam keterangannya, elevasi muka air saat ini berada pada 705,60 mdpl, sedangkan elevasi normalnya 712,50 mdpl.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketersediaan air waduk menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika musim kemarau berlangsung panjang dan belum ada kepastian mengenai kembalinya curah hujan secara memadai.

Pengeluaran Air Diatur Sesuai Jadwal

Di tengah berkurangnya tampungan, pengeluaran air dilakukan berdasarkan kebutuhan dan jadwal operasional. Ahmad menjelaskan bahwa periode pengeringan irigasi berlangsung pada 16–31 Oktober 2026. Sejalan dengan jadwal tersebut, pintu pengeluaran air disebut telah ditutup pada 16 Oktober 2026.

Sebelum penutupan, debit air yang dikeluarkan disebut sekitar 2 meter kubik per detik. Dalam kondisi tertentu, debit pengeluaran dapat mencapai 3 hingga 4 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

Pengaturan tersebut menjadi bagian dari operasional waduk dalam menghadapi keterbatasan cadangan air. Sebab, air yang tersimpan tidak dapat dikeluarkan hingga benar-benar habis karena terdapat tampungan mati, yakni bagian tampungan yang tidak dapat dikeluarkan melalui sistem pengambilan air sebagaimana tampungan aktif.

Baca Juga:  ‎Dana Desa 2025 Pasir Agung Fokus Bangun Jalan, Air Bersih dan Pemberdayaan Warga ‎ ‎

Berdasarkan keterangan Ahmad, masih terdapat cadangan sekitar 3 juta meter kubik air yang dapat dikeluarkan. Sementara itu, angka sekitar 4 juta meter kubik juga disebut dalam kaitannya dengan batas operasional Waduk Darma.

Pengeluaran air, lanjut Ahmad, harus mengikuti Pola Operasi Waduk (POW) yang telah ditetapkan untuk periode lima tahunan.

“Jadi batas operasi Waduk Darma itu batas atasnya 712,55 untuk operasi, batas di bawahnya 704 mdpl, ada pola operasinya,” demikian keterangan Ahmad Mansyur Jamaludin, S.T., mengenai batas operasional waduk.

Pola operasi tersebut menjadi acuan dalam pengaturan operasional dan pengeluaran air agar pemanfaatan cadangan tetap mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Ahmad juga menyampaikan bahwa komunikasi dengan petugas di wilayah hilir terus dilakukan untuk membahas kondisi tampungan dan kebutuhan air. Hingga keterangan tersebut diberikan, menurutnya, belum ada peringatan khusus terkait kondisi air waduk karena masih terdapat cadangan yang dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan operasional.

Rencana Tata Tanam Berpotensi Mundur

Persoalan Waduk Darma tidak hanya berkaitan dengan penurunan permukaan air, tetapi juga menyangkut kesiapan menghadapi rencana tata tanam (RTT) berikutnya. Dengan kondisi tampungan yang tersisa sekitar 30 persen, ketersediaan air menjadi pertimbangan penting sebelum kegiatan tanam dimulai.

Ahmad menjelaskan bahwa awal musim hujan diperkirakan berlangsung pada November atau Desember. Namun, apabila hujan belum turun sesuai perkiraan, rencana tata tanam berpotensi diundur hingga kondisi hujan mendukung ketersediaan air.

Menurutnya, apabila kegiatan tanam dipaksakan sejak awal November ketika cadangan air masih terbatas, pasokan dikhawatirkan tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh wilayah yang memerlukan pengairan.

Kondisi tersebut membuat penentuan waktu tanam perlu mempertimbangkan ketersediaan air di waduk. Sebab, kebutuhan pengairan tidak hanya berkaitan dengan dimulainya penanaman, tetapi juga keberlangsungan pasokan air bagi tanaman dan wilayah yang dilayani.

Penyesuaian jadwal tanam menjadi salah satu pertimbangan agar kebutuhan air tidak melampaui persediaan yang tersedia. Dengan demikian, perkembangan curah hujan dan kondisi tampungan menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan rencana tata tanam mendatang.

Kemarau Panjang Jadi Tantangan Pengelolaan Air

Ahmad menyebut kondisi surut pada musim kemarau bukan hal yang sepenuhnya baru bagi Waduk Darma. Namun, kemarau yang berlangsung panjang tahun ini membuat penyusutan tampungan semakin terasa, terutama ketika kebutuhan air di wilayah hilir masih harus dipenuhi.

Di tengah situasi tersebut, pengelola perlu memperhitungkan ketersediaan air yang tersisa, jadwal pengeluaran, serta kebutuhan pertanian dan air baku. Kepatuhan terhadap Pola Operasi Waduk juga menjadi bagian penting dalam menjaga agar pemanfaatan air tetap sesuai ketentuan operasional.

Kondisi tampungan yang dilaporkan tersisa sekitar 30 persen turut menjadi perhatian menjelang musim tanam berikutnya. Apabila hujan belum turun sesuai perkiraan, penyesuaian rencana tata tanam menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan ketersediaan air.

Perkembangan kondisi Waduk Darma pun menjadi penting untuk terus dipantau, seiring kebutuhan air di wilayah pelayanan dan ketidakpastian awal musim hujan.

Rajawali Investigasi akan terus mengedepankan informasi berdasarkan keterangan narasumber dan data yang tersedia untuk mengikuti perkembangan kondisi Waduk Darma, pengaturan distribusi air, serta kesiapan pengelola dalam menghadapi kebutuhan air pada musim tanam mendatang.

(GUNTUR – Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan
SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?
DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL
TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT
GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?
Kertawinangun Perkuat Tata Kelola Informasi Desa, Pemutakhiran Profil hingga Pengembangan Sistem Informasi Jadi Perhatian
Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Desa Cihaur Perkuat Pelayanan Lewat Data dan Sistem Informasi
Revitalisasi SMPN 2 Japara, Benahi Ruang Kelas dan Sanitasi demi Kenyamanan Belajar
Berita ini 177 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 03:14 WIB

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 02:38 WIB

SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?

Senin, 26 Oktober 2026 - 00:39 WIB

DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:54 WIB

TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:01 WIB

GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?

Berita Terbaru