Ilustrasi
JAKARTA|Rajawali Investigasi
Brussels, 27 Mei 2026
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali meningkat setelah sejumlah pemerintah Uni Eropa bersama sekutu NATO memanggil perwakilan diplomatik Rusia, menyusul peringatan Moskow terkait kemungkinan eskalasi serangan ke ibu kota Ukraina, Kyiv.
Menurut pernyataan resmi yang dikutip berbagai institusi Eropa, Rusia sebelumnya mengeluarkan peringatan kepada negara asing agar meninggalkan Kyiv karena adanya rencana peningkatan serangan terhadap target militer dan pusat pengambilan keputusan di kota tersebut.
Langkah tersebut langsung memicu respons diplomatik dari negara-negara Eropa.
Uni Eropa menyebut pernyataan Rusia sebagai bentuk “eskalasi yang tidak dapat diterima” dan menilai langkah tersebut sebagai upaya tekanan terhadap komunitas internasional.
Sejumlah negara seperti Jerman, Norwegia, Belanda, Polandia, dan Swedia turut melakukan pemanggilan terhadap duta besar Rusia sebagai bentuk protes diplomatik.
Di sisi lain, NATO dilaporkan memperkuat kesiapan militernya di kawasan Baltik dengan meningkatkan mekanisme pengerahan cepat pasukan sebagai bagian dari penguatan pertahanan di sisi timur aliansi.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi perluasan konflik di luar Ukraina.
Para pejabat Eropa juga menegaskan bahwa delegasi Uni Eropa di Kyiv tetap bertahan di lokasi dan tidak akan dievakuasi, meskipun ada peringatan dari Moskow.
Sikap ini disebut sebagai bentuk komitmen politik untuk mempertahankan kehadiran diplomatik di Ukraina.
Situasi ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan blok Eropa, di mana kedua pihak saling menuding adanya provokasi dan upaya destabilisasi di kawasan.
Sumber: Redaksi|Reuters















