Ilustrasi
JAKARTA | Investigasi, 19 Mei 2026
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan resmi terbarunya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,5 persen, dengan alasan utama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas energi dan perdagangan dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konferensi pers peluncuran laporan World Economic Situation and Prospects, pejabat PBB menyampaikan bahwa revisi ke bawah tersebut mencerminkan meningkatnya risiko global yang berasal dari konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, yang memicu tekanan pada harga energi serta mengganggu rantai pasok internasional.
“Ketidakpastian geopolitik yang meningkat, terutama di Timur Tengah, memberikan dampak nyata terhadap prospek pertumbuhan global,” demikian pernyataan resmi PBB yang dikutip Reuters.
PBB menegaskan bahwa perlambatan ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor regional, tetapi juga oleh dampak lanjutan dari ketegangan perdagangan antarnegara besar, inflasi energi, serta ketidakstabilan pasar keuangan global.
Dalam laporan tersebut, PBB juga menyoroti bahwa negara berkembang akan menjadi pihak yang paling rentan terhadap perlambatan ini, terutama akibat keterbatasan ruang fiskal dan tingginya biaya impor energi serta pangan.
Selain itu, organisasi internasional tersebut memperingatkan bahwa tanpa de-eskalasi konflik dan stabilisasi harga energi, prospek pemulihan ekonomi global dalam jangka pendek akan tetap terbatas.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi tambahan dari lembaga ekonomi utama dunia lainnya terkait revisi proyeksi yang diumumkan PBB tersebut.















