GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?

- Penulis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi: Mata air di tengah hutan Ciremai dan pentingnya menjaga kelestarian alam di tengah rencana geothermal.

 

KUNINGAN | Rajawali Investigasi 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gunung Ciremai tidak hanya menyimpan potensi energi panas bumi di bawah permukaan tanahnya. Kawasan pegunungan yang membentang di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka ini juga memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menopang sistem tata air, menjaga tutupan vegetasi, hingga mendukung kehidupan masyarakat di lereng dan wilayah sekitarnya.

Di tengah munculnya rencana penjajakan pengembangan energi panas bumi atau geothermal di Gunung Ciremai, pertanyaan mendasar pun mengemuka. Jika rencana tersebut berlanjut, bagaimana nasib mata air, hutan, dan lereng yang selama ini menjadi bagian penting dari keseimbangan lingkungan?

Pertanyaan ini bukan berarti geothermal telah menyebabkan kerusakan di Ciremai. Hingga informasi yang diberitakan pada Oktober 2026, rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan, belum ditetapkan untuk dilelang atau memasuki tahap eksplorasi. Namun, justru pada tahap awal inilah kondisi lingkungan perlu dipahami secara menyeluruh agar keputusan berikutnya tidak hanya bertumpu pada potensi energi, tetapi juga mempertimbangkan daya dukung alam.

Sebab, ketika sebuah rencana menyangkut kawasan pegunungan yang memiliki fungsi tata air dan konservasi, persoalannya tidak berhenti pada kemungkinan menghasilkan listrik. Ada lingkungan dan kehidupan masyarakat yang perlu diperhitungkan sejak awal.

Di balik potensi energi, ada sistem tata air yang perlu dijaga

Keberadaan mata air di kawasan Ciremai memiliki arti penting bagi masyarakat. Air dari wilayah pegunungan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, sanitasi, serta berbagai kegiatan ekonomi. Karena itu, kondisi sumber air tidak dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai masa depan kawasan tersebut.

Penelitian mengenai hidrogeologi lereng timur Gunung Ciremai yang diterbitkan pada 2018 mengkaji karakteristik air tanah dan keberadaan mata air di kawasan penelitian. Kajian lain yang dipublikasikan melalui repositori Universitas Pertamina pada 2025 juga meneliti kondisi geologi dan kualitas air dari sejumlah mata air di lereng timur.

Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan pentingnya memahami karakteristik geologi dan sistem air tanah di sekitar Ciremai. Namun, temuan pada wilayah penelitian tertentu tidak otomatis mewakili seluruh lereng gunung. Hubungan antara satu mata air dan mata air lainnya, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan lokasi rencana geothermal, tetap membutuhkan pembuktian melalui pemetaan hidrogeologi yang sesuai.

Di sinilah letak persoalan yang perlu dicermati. Apabila rencana pengembangan berlanjut, penilaian terhadap sumber air tidak cukup hanya menyebut bahwa mata air tersedia atau bahwa teknologi yang digunakan tergolong modern. Perlu diketahui bagaimana kondisi awal sumber air, bagaimana jalur alirannya, serta apakah lokasi kegiatan berpotensi berhubungan dengan sistem air tanah yang digunakan masyarakat.

Tanpa data tersebut, penilaian terhadap risiko akan sulit dilakukan secara objektif.

Jika kegiatan berlanjut, apa yang perlu diperhatikan?

Panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan kajian menyeluruh terhadap kondisi geologi, sumber air, tutupan hutan, dan potensi risiko lingkungan di lokasi kegiatan.

Besarnya risiko sangat bergantung pada lokasi, karakteristik geologi, metode pelaksanaan, skala kegiatan, serta langkah pengendalian yang diterapkan. Survei awal, pembangunan akses apabila diperlukan, pengeboran eksplorasi, dan pembangunan fasilitas memiliki karakteristik kegiatan yang berbeda.

Pada tahap tertentu, kegiatan fisik dapat menimbulkan kebutuhan pembukaan lahan, pergerakan kendaraan dan peralatan berat, pengelolaan air, serta penanganan material pengeboran. Apabila tidak direncanakan dan dikendalikan dengan baik, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap tanah, vegetasi, aliran permukaan, atau kualitas air di lokasi yang terdampak.

Namun, kemungkinan tersebut tidak boleh langsung diperlakukan sebagai bukti bahwa kerusakan pasti akan terjadi di Ciremai. Penilaiannya harus didasarkan pada lokasi kegiatan yang jelas, kondisi lingkungan setempat, rancangan teknis, dan kajian risiko yang dapat diperiksa.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah teknologi geothermal aman, melainkan aman dalam kondisi seperti apa, di lokasi mana, dengan pengendalian apa, dan berdasarkan kajian yang bagaimana.

Hutan dan lereng bukan unsur yang dapat dipisahkan

Gunung Ciremai memiliki bentang alam vulkanik dengan variasi ketinggian, kemiringan lereng, jenis tanah, dan tutupan vegetasi. Kondisi ini membuat perlindungan hutan dan pengelolaan lahan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.

Tutupan vegetasi membantu mengurangi energi jatuhnya air hujan, menahan tanah, serta memengaruhi aliran air di permukaan. Pada lereng tertentu, perubahan tutupan lahan dan pekerjaan konstruksi dapat meningkatkan kerentanan terhadap erosi atau gangguan kestabilan tanah, bergantung pada kondisi setempat dan cara kegiatan dilakukan.

Baca Juga:  Bongkar Rangka Kayu” D–E–F " Dipertanyakan, Kondisi Eksisting Sudah Baja Ringan, Bukti Pekerjaan Wajib Dibuka

Jika suatu saat pengembangan geothermal membutuhkan jalan akses, lokasi pengeboran, jaringan pipa, atau fasilitas pendukung, setiap rencana tersebut perlu dinilai berdasarkan karakteristik lahan dan ketentuan pemanfaatan ruang yang berlaku.

Lokasi menjadi faktor yang sangat menentukan. Kegiatan di satu tempat tidak otomatis menimbulkan dampak yang sama dengan kegiatan di tempat lain. Begitu pula, kedekatan geografis dengan kawasan hutan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran. Batas kawasan, status lahan, zonasi, dan bentuk kegiatan harus diperiksa secara tepat.

Artinya, pembahasan geothermal Ciremai membutuhkan lebih dari sekadar gambaran umum tentang potensi panas bumi. Peta lokasi dan informasi mengenai kemungkinan kegiatan fisik diperlukan agar risiko terhadap hutan, lereng, dan sumber air dapat dinilai secara terukur.

Empat sisi Ciremai, kondisi lingkungan belum tentu sama

Perhatian terhadap Gunung Ciremai juga tidak semestinya terbatas pada satu sisi lereng. Wilayah timur, selatan, barat, dan utara memiliki bentang lahan serta kondisi lingkungan yang dapat berbeda.

Penelitian yang dilakukan di lereng timur maupun selatan memberikan gambaran bahwa karakteristik air tanah, batuan, dan mata air perlu dipahami sesuai wilayahnya. Akan tetapi, temuan pada satu sisi gunung tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh kawasan. Tidak semua mata air terbukti saling terhubung, dan tidak semua wilayah dapat diasumsikan memiliki tingkat kerentanan yang sama.

Karena itu, sebelum dampak suatu rencana dapat diperkirakan, lokasi yang sedang dijajaki harus diketahui secara lebih pasti. Setelah itu, data geologi, hidrogeologi, tutupan lahan, sumber air, dan kondisi masyarakat di wilayah terkait dapat diperiksa secara lebih terarah.

Tanpa kepastian lokasi, pembicaraan mengenai wilayah yang terdampak masih berisiko menjadi spekulasi. Sebaliknya, ketika peta dan data tersedia, masyarakat dapat menilai apakah kekhawatiran yang muncul memiliki dasar ilmiah serta perlindungan apa yang diperlukan.

Tahap penjajakan justru menentukan kualitas keputusan

Informasi yang diberitakan pada Oktober 2026 menyebutkan bahwa rencana geothermal di Kuningan masih berada pada tahap penjajakan. Dengan demikian, belum tepat menyatakan bahwa pengeboran telah dilakukan atau kerusakan lingkungan akibat proyek telah terjadi.

Meski belum memasuki tahap eksplorasi, status tersebut tidak menghilangkan kebutuhan akan keterbukaan informasi. Tahap awal merupakan kesempatan untuk mengenali kondisi lingkungan, menyusun data pembanding, mengidentifikasi potensi persoalan, dan memastikan bahwa setiap tahapan berikutnya mengikuti ketentuan yang berlaku.

Salah satu hal penting ialah tersedianya data dasar lingkungan sebelum kegiatan fisik dilakukan. Data tersebut dapat mencakup debit dan kualitas air pada musim hujan maupun kemarau, pemetaan mata air, kondisi tutupan lahan, karakteristik lereng, serta informasi geologi dan hidrogeologi yang relevan dengan lokasi rencana.

Data dasar diperlukan bukan untuk menyimpulkan bahwa geothermal pasti merusak, melainkan agar perubahan yang mungkin terjadi kelak dapat dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Tanpa pembanding yang memadai, penentuan penyebab perubahan lingkungan dapat menjadi lebih sulit.

Keterbukaan mengenai lokasi dan tahapan rencana juga memungkinkan masyarakat, akademisi, serta pemerhati lingkungan memahami persoalan berdasarkan informasi yang sama, bukan semata-mata berdasarkan dukungan atau penolakan.

Ciremai membutuhkan kajian, bukan sekadar janji

Perdebatan mengenai geothermal di Gunung Ciremai pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama perlu dibahas secara serius: kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.

Keduanya tidak semestinya dipertentangkan tanpa kajian. Namun, potensi energi juga tidak dapat dijadikan alasan untuk mengesampingkan kondisi sumber air, hutan, lereng, dan kawasan konservasi.

Sebelum rencana bergerak ke tahap berikutnya, informasi mengenai lokasi yang dikaji, kondisi awal lingkungan, potensi risiko, serta langkah pencegahan perlu menjadi dasar pembahasan. Persyaratan perizinan dan lingkungan pun harus dinilai sesuai tahapan kegiatan, lokasi, dan ketentuan yang berlaku.

Bagi masyarakat di sekitar Ciremai, kepentingan terhadap air dan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis. Keduanya berkaitan dengan keberlanjutan pertanian, kebutuhan sehari-hari, dan kualitas hidup pada masa mendatang.

Rajawali Investigasi memandang, pertanyaan mengenai geothermal Ciremai tidak cukup dijawab dengan besarnya potensi energi atau pernyataan bahwa teknologi tersebut ramah lingkungan. Yang lebih mendasar ialah apakah kondisi alam telah dipetakan secara memadai, apakah risikonya telah dinilai berdasarkan data, dan apakah perlindungan terhadap kepentingan masyarakat telah dipersiapkan sejak awal.

Sebab, jika suatu rencana berlanjut, dampak dan manfaatnya tidak boleh hanya dinilai dari energi yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana lingkungan dan kehidupan masyarakat tetap terlindungi.

Bersambung ..

(GUNTUR -Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan
SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?
DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL
TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT
Kertawinangun Perkuat Tata Kelola Informasi Desa, Pemutakhiran Profil hingga Pengembangan Sistem Informasi Jadi Perhatian
Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Desa Cihaur Perkuat Pelayanan Lewat Data dan Sistem Informasi
Waduk Darma Menyusut Drastis, Tampungan Air Tersisa 30 Persen, BBWS Ungkap Penyebabnya
Revitalisasi SMPN 2 Japara, Benahi Ruang Kelas dan Sanitasi demi Kenyamanan Belajar
Berita ini 149 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 03:14 WIB

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 02:38 WIB

SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?

Senin, 26 Oktober 2026 - 00:39 WIB

DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:54 WIB

TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:01 WIB

GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?

Berita Terbaru