‎KPK Soroti Kerawanan Korupsi di Tiga Sektor Daerah, Jawa Barat Masuk Daftar Pengawasan 2026 ‎

- Penulis

Minggu, 10 Mei 2026 - 06:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Suasana Rapat Koordinasi KPK di Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, Kendari, Kamis (7/5), membahas penguatan tata kelola aset daerah.

‎

‎JAKARTA | Rajawali Investigasi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) menyoroti masih tingginya kerawanan praktik korupsi pada tiga sektor utama di sejumlah daerah, yakni pelayanan publik, pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD), dan optimalisasi pendapatan daerah. Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta melemahnya kemandirian fiskal daerah.

‎Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah IV KPK menyebutkan, hasil pemetaan melalui Monitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP) menunjukkan masih banyak daerah dengan skor rendah pada sektor pengelolaan aset dan layanan publik.

Pada 2025, rata-rata capaian MCSP daerah di wilayah terkait tercatat 51,09 poin, dengan pengelolaan BMD menjadi salah satu aspek terlemah.

‎KPK juga menemukan bahwa pemanfaatan aset daerah baru mencapai sekitar 26 persen, sementara tingkat pengamanan aset hanya sekitar 32 persen. Kondisi ini membuka ruang terjadinya penyimpangan, termasuk aset yang tidak tercatat optimal, lemahnya administrasi, hingga pemanfaatan yang tidak sesuai nilai keekonomian.

‎Selain itu, sektor pelayanan publik dinilai masih rawan praktik suap, gratifikasi, dan penggunaan perantara atau calo, terutama dalam proses perizinan.

KPK menilai hal ini dipicu oleh sistem layanan yang belum sepenuhnya transparan dan masih manual di beberapa daerah.

Baca Juga:  Kawal Dugaan Penyimpangan Tunjangan DPRD Kuningan, ALAMKU Minta Kejati Jabar Lakukan Supervisi: "Jangan Sampai Bernasib Sama Seperti Kasus Kuningan Caang"

‎Dalam aspek pendapatan daerah, KPK mencatat masih adanya potensi kebocoran dari pembayaran pajak dan retribusi yang dilakukan secara manual, basis data yang belum mutakhir, serta lemahnya pengawasan.

Hal ini dinilai menghambat optimalisasi Pendapatan Asli Daerah di tengah menurunnya transfer dana pusat.

‎KPK juga menyoroti ketidaksinkronan data pertanahan dan perpajakan daerah yang berdampak pada belum optimalnya penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dari sekitar 1,5 juta bidang tanah yang terdaftar di Kementerian ATR/BPN, baru sekitar 1 juta bidang yang tercatat sebagai objek pajak daerah.

‎Jawa Barat termasuk dalam 19 provinsi yang ditetapkan sebagai pilot project penguatan tata kelola daerah tahun 2026 dalam program pencegahan korupsi terintegrasi KPK.

‎Saat ini, total aset tanah milik pemerintah daerah di wilayah terkait tercatat masih memiliki porsi sertifikasi yang belum optimal, sehingga berpotensi menimbulkan risiko hukum, sengketa, hingga kehilangan aset daerah di masa mendatang.

‎KPK menegaskan pentingnya percepatan sertifikasi aset, integrasi data pertanahan dan perpajakan, serta digitalisasi layanan publik untuk menutup celah praktik korupsi di daerah.

‎

‎Sumber: Redaksi | Rapat Koordinasi Korsup Wilayah IV KPK di Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, Kendari (7 Mei 2026).

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan
SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?
DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL
TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT
GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?
Kertawinangun Perkuat Tata Kelola Informasi Desa, Pemutakhiran Profil hingga Pengembangan Sistem Informasi Jadi Perhatian
Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Desa Cihaur Perkuat Pelayanan Lewat Data dan Sistem Informasi
Waduk Darma Menyusut Drastis, Tampungan Air Tersisa 30 Persen, BBWS Ungkap Penyebabnya
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 03:14 WIB

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 02:38 WIB

SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?

Senin, 26 Oktober 2026 - 00:39 WIB

DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:54 WIB

TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:01 WIB

GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?

Berita Terbaru