ALAMKU Gugat Hasil Appraisal Tunjangan DPRD Kuningan, Desak Bupati Evaluasi Total Penilaian KJPP

- Penulis

Selasa, 30 Juni 2026 - 03:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Foto: Surat keberatan Aliansi Masyarakat Kuningan (ALAMKU) kepada Bupati Kuningan terkait hasil appraisal tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan serta anggota DPRD Kabupaten Kuningan. / ALAMKU

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

KUNINGAN | Rajawali Investigasi

Polemik besaran tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan serta anggota DPRD Kabupaten Kuningan kembali memanas. Aliansi Masyarakat Kuningan (ALAMKU) secara resmi melayangkan surat keberatan konstitusional kepada Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil appraisal yang menjadi dasar penetapan tunjangan tersebut.

Dalam surat bernomor 007/ALAMKU/Adv/VI/2026 tertanggal 27 Juni 2026, ALAMKU menilai hasil penilaian yang dilakukan oleh KJPP Kampianus & Rekan serta KJPP Totok Wasito & Rekan masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar, baik dari sisi proses, metode, data pembanding, dasar perhitungan, maupun hasil akhirnya.

Keberatan itu disampaikan setelah ALAMKU mengikuti audiensi bersama DPRD Kabupaten Kuningan, unsur Pemerintah Daerah, dan kedua Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Dari forum tersebut, menurut ALAMKU, muncul berbagai penjelasan yang justru memperlihatkan masih perlunya pengkajian lebih mendalam terhadap proses appraisal yang menjadi dasar penggunaan anggaran daerah.

Bagi ALAMKU, tunjangan perumahan dan transportasi anggota DPRD bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut penggunaan keuangan daerah yang wajib memenuhi prinsip kehati-hatian, kewajaran, kepatutan, transparansi, akuntabilitas, serta kemampuan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan.

Dalam surat keberatannya, ALAMKU mengutip sejumlah dasar hukum, mulai dari Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, Keuangan Negara, Perbendaharaan Negara, Pengelolaan Keuangan Daerah, Hak Keuangan DPRD, hingga Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Seluruh regulasi tersebut dijadikan dasar agar kebijakan yang berdampak pada APBD tidak ditetapkan hanya berdasarkan hasil appraisal yang masih dipersoalkan.

ALAMKU meminta Bupati Kuningan melakukan review dan evaluasi ulang terhadap hasil appraisal, memverifikasi metode serta data pembanding yang digunakan, membandingkannya dengan kajian internal pemerintah maupun pihak independen lainnya, melibatkan akademisi dan masyarakat dalam proses evaluasi, serta mengambil langkah perbaikan apabila ditemukan ketidaksesuaian yang berpotensi merugikan keuangan daerah.

Baca Juga:  ‎Benarkah KDMP Kaduagung Berdiri di Atas LP2B? Ini Penjelasan Dinas Pertanian

Ketua ALAMKU, Imam Royani, menegaskan bahwa surat keberatan tersebut bukan ditujukan untuk menghambat hak konstitusional anggota DPRD, melainkan memastikan seluruh kebijakan yang menggunakan uang rakyat memiliki dasar yang benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang kami persoalkan bukan hak anggota DPRD, tetapi proses penetapan nilai yang menjadi dasar pemberian tunjangan. Ketika hasil appraisal masih memunculkan berbagai pertanyaan, pemerintah daerah wajib melakukan evaluasi secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun kerugian terhadap keuangan daerah di kemudian hari,” tegas Imam Royani.

Menurutnya, keterbukaan seluruh dokumen, metode penilaian, data pembanding, serta dasar penghitungan menjadi bagian penting untuk memastikan tidak ada kebijakan yang ditetapkan tanpa pengawasan publik.

“Kami meminta Bupati mengambil sikap objektif. Evaluasi harus dilakukan secara independen dan transparan. Jika memang hasil appraisal sudah sesuai aturan, tentu akan semakin memperkuat legitimasi kebijakan. Namun apabila ditemukan kekeliruan, maka harus segera diperbaiki sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap APBD Kabupaten Kuningan,” ujar Imam.

Surat keberatan tersebut juga ditembuskan kepada Gubernur Jawa Barat, Menteri Dalam Negeri, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Sekretaris Daerah, Inspektorat, BPKAD, Bagian Hukum Setda, Badan Kesbangpol, kedua KJPP, Kejaksaan Negeri Kuningan, Polres Kuningan, serta Kodim 0615/Kuningan.

Dengan langkah tersebut, polemik appraisal tunjangan DPRD Kabupaten Kuningan kini memasuki babak baru. Publik menanti apakah Pemerintah Kabupaten Kuningan akan membuka kembali proses evaluasi terhadap hasil appraisal yang menjadi dasar penggunaan anggaran daerah, atau tetap mempertahankan hasil penilaian yang kini mendapat keberatan resmi dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan
SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?
DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL
TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT
GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?
Kertawinangun Perkuat Tata Kelola Informasi Desa, Pemutakhiran Profil hingga Pengembangan Sistem Informasi Jadi Perhatian
Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Desa Cihaur Perkuat Pelayanan Lewat Data dan Sistem Informasi
Waduk Darma Menyusut Drastis, Tampungan Air Tersisa 30 Persen, BBWS Ungkap Penyebabnya
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 03:14 WIB

Pemdes Cilimus Paparkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun 2025, Anggaran Miliaran Rupiah Diarahkan untuk Pelayanan dan Pembangunan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 02:38 WIB

SULIT DITEMUI, TELEPON TAK DIJAWAB: Ada Apa dengan Kepala Desa Cilimus?

Senin, 26 Oktober 2026 - 00:39 WIB

DUGAAN PENYIMPANGAN MBG DI KUNINGAN DISOROT, FRONTAL DESAK BUPATI HENTIKAN DAPUR DAN BUKA AUDIT TOTAL

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:54 WIB

TUTUP SEMUA DAPUR MBG! LSM FRONTAL SIAPKAN AKSI DI PENDOPO KUNINGAN, DESAK BUPATI KIRIM PETISI KE PEMERINTAH PUSAT

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:01 WIB

GEOTHERMAL MENGINTAI CIREMAI? Bagaimana Nasib Mata Air, Hutan, dan Lereng di Sekitarnya Jika Rencana Berlanjut?

Berita Terbaru