Foto: Ilustrasi
Jakarta | Rajawali Investigasi
Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) pada 1 Mei 2026 resmi mengumumkan kerja sama dengan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Domino Data Lab untuk memperkuat kemampuan deteksi ancaman ranjau laut di kawasan strategis Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerja sama ini menjadi bagian dari program modernisasi pertahanan maritim AS yang semakin mengandalkan teknologi kecerdasan buatan dalam operasi bawah laut, khususnya pada misi penanggulangan ranjau (mine countermeasures).
Berdasarkan laporan Reuters pada awal Mei 2026, kontrak kerja sama tersebut bernilai hingga sekitar USD 100 juta dan termasuk dalam pengembangan sistem berbasis machine learning untuk mendukung operasi militer bawah laut.
Dalam program ini, teknologi Domino Data Lab akan digunakan untuk membantu analisis data sonar serta pemetaan bawah laut guna mengidentifikasi objek yang berpotensi sebagai ranjau. Sistem berbasis AI tersebut diharapkan dapat mempercepat proses deteksi dibanding metode manual yang selama ini digunakan.
Angkatan Laut AS menyatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan ditujukan untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi identifikasi ancaman, sekaligus mengurangi risiko terhadap personel militer dalam operasi di lapangan.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut terbuka, merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia dan menjadi perhatian rutin dalam isu keamanan maritim internasional di tengah dinamika ketegangan kawasan Timur Tengah.
Sejumlah laporan internasional menyebutkan peningkatan kewaspadaan Amerika Serikat terhadap potensi ancaman keamanan di wilayah tersebut, termasuk skenario penggunaan ranjau bawah laut dalam konteks konflik regional, meskipun tidak ada konfirmasi publik mengenai insiden spesifik yang terjadi.
Selain AI, Angkatan Laut AS juga terus mengembangkan penggunaan sistem tanpa awak seperti drone bawah laut untuk mendukung operasi deteksi dan pembersihan ranjau. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibanding metode konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama dan berisiko tinggi.
Sumber: Reuters, The Straits Times, AP News















