‎Angkatan Laut AS Gandeng Perusahaan AI Domino, Perkuat Deteksi Ranjau di Selat Hormuz

- Penulis

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Jakarta | Rajawali Investigasi

Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) pada 1 Mei 2026 resmi mengumumkan kerja sama dengan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Domino Data Lab untuk memperkuat kemampuan deteksi ancaman ranjau laut di kawasan strategis Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Kerja sama ini menjadi bagian dari program modernisasi pertahanan maritim AS yang semakin mengandalkan teknologi kecerdasan buatan dalam operasi bawah laut, khususnya pada misi penanggulangan ranjau (mine countermeasures).

‎Berdasarkan laporan Reuters pada awal Mei 2026, kontrak kerja sama tersebut bernilai hingga sekitar USD 100 juta dan termasuk dalam pengembangan sistem berbasis machine learning untuk mendukung operasi militer bawah laut.

Dalam program ini, teknologi Domino Data Lab akan digunakan untuk membantu analisis data sonar serta pemetaan bawah laut guna mengidentifikasi objek yang berpotensi sebagai ranjau. Sistem berbasis AI tersebut diharapkan dapat mempercepat proses deteksi dibanding metode manual yang selama ini digunakan.

Baca Juga:  ‎Koki di Dubai Pangkas Menu di Tengah Tekanan Rantai Pasok Bahan Impor

Angkatan Laut AS menyatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan ditujukan untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi identifikasi ancaman, sekaligus mengurangi risiko terhadap personel militer dalam operasi di lapangan.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut terbuka, merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia dan menjadi perhatian rutin dalam isu keamanan maritim internasional di tengah dinamika ketegangan kawasan Timur Tengah.

‎Sejumlah laporan internasional menyebutkan peningkatan kewaspadaan Amerika Serikat terhadap potensi ancaman keamanan di wilayah tersebut, termasuk skenario penggunaan ranjau bawah laut dalam konteks konflik regional, meskipun tidak ada konfirmasi publik mengenai insiden spesifik yang terjadi.

Selain AI, Angkatan Laut AS juga terus mengembangkan penggunaan sistem tanpa awak seperti drone bawah laut untuk mendukung operasi deteksi dan pembersihan ranjau. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibanding metode konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama dan berisiko tinggi.

Sumber: Reuters, The Straits Times, AP News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rajawaliinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

China Bangun Infrastruktur Peluncuran Dekat Silo Rudal Nuklir, Tingkatkan Deterrence Strategis
AS Dorong China Tekan Iran untuk Redakan Ketegangan di Kawasan Teluk
China Pimpin Sidang Dewan Keamanan PBB, Wang Yi Bahas Stabilitas Global di New York
Ketegangan Rusia–Eropa Meningkat, EU dan NATO Perkuat Sikap Diplomatik dan Keamanan
‎Quad Perkuat Koordinasi Indo-Pasifik, Isyaratkan Penguatan Blok Strategis Global
PBB Nilai Pertemuan Trump–Xi Belum Hasilkan Terobosan, Dorong Lanjutan Diplomasi Tingkat Tinggi
Krisis Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, PBB Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Jadi 2,5%
Negara-Negara Barat Desak Israel Hentikan Ekspansi Permukiman di Wilayah Tepi Barat
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 00:42 WIB

China Bangun Infrastruktur Peluncuran Dekat Silo Rudal Nuklir, Tingkatkan Deterrence Strategis

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:33 WIB

AS Dorong China Tekan Iran untuk Redakan Ketegangan di Kawasan Teluk

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:43 WIB

China Pimpin Sidang Dewan Keamanan PBB, Wang Yi Bahas Stabilitas Global di New York

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:32 WIB

Ketegangan Rusia–Eropa Meningkat, EU dan NATO Perkuat Sikap Diplomatik dan Keamanan

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:03 WIB

‎Quad Perkuat Koordinasi Indo-Pasifik, Isyaratkan Penguatan Blok Strategis Global

Berita Terbaru