Foto: Ilustrasi
Jakarta | Rajawali Investigasi
Perbedaan sikap di internal kepemimpinan Lebanon dilaporkan masih menjadi faktor yang mempersulit upaya Arab Saudi dalam mendorong kesamaan pandangan terkait wacana pembahasan dengan Israel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengutip laporan Reuters pada akhir April hingga awal Mei 2026, yang juga diberitakan sejumlah media internasional, terdapat perbedaan pandangan antara Presiden Lebanon Joseph Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri, serta kelompok Hizbullah dalam menyikapi kemungkinan pembicaraan tersebut.
Presiden Joseph Aoun disebut menunjukkan keterbukaan terhadap opsi dialog terbatas sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan di kawasan perbatasan. Sementara itu, Nabih Berri mengambil sikap lebih berhati-hati dan menolak normalisasi penuh, sedangkan Hizbullah tetap menolak adanya pembicaraan langsung dengan Israel.
Perbedaan pandangan ini membuat Lebanon belum memiliki posisi tunggal dalam merespons dinamika diplomasi yang berkembang di kawasan.
Di sisi lain, Arab Saudi disebut terlibat dalam upaya diplomatik untuk mendorong adanya pemahaman bersama di antara pihak-pihak terkait di Lebanon. Sejumlah sumber diplomatik yang dikutip Reuters menyebut Riyadh memandang pentingnya konsolidasi sikap internal Lebanon sebelum proses diplomasi lebih lanjut dapat berjalan.
Situasi ini terjadi di tengah ketegangan yang masih berlanjut antara Israel dan Hizbullah, serta upaya internasional menjaga stabilitas melalui mekanisme gencatan senjata yang masih rapuh di wilayah perbatasan Lebanon–Israel. Sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, terus mendorong jalur diplomasi sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan regional.
Sumber: Reuters, The Japan Times, The New Arab















